Busan, Korea, PNU

Tantangan Puasa di Busan

Kegiatan utama di bulan Ramadhan adalah puasa. Puasa di rumah itu rasanya beda sama puasa di perantauan, apalagi kali ini harus menjalani puasa di negeri orang yang lingkungannya tidak mengenal namanya Ramadhan dan puasa itu sendiri. Kira-kira apa aja ya tantangannya?

Kali ini saya mau share bagaimana menjalani puasa di Korea, tepatnya di Kota Busan. Busan adalah kota dengan penduduk terbesar kedua di Korea. Istilahnya, Surabaya nya Indonesia mungkin. Berikut apa yang saya rasakan selama berpuasa di Korea. Dan nantinya akan saya terus tambahkan seiring dengan berjalannya puasa Ramadhan disini 🙂

  1. Perbedaan Waktu
    Hal yang paling terasa ketika berpuasa di negeri orang adalah perbedaan waktu puasa, kadang lebih lama atau lebih cepat, tergantung lokasinya. Di kasus saya kali ini, Korea tidak terlalu jauh berbeda masalah waktu (GMT +9), kira-kira Korea setara dengan waktu di Papua. Namun, perbedaannya sangat terasa di waktu matahari terbit dan terbenam. Sehingga, meskipun hanya berbeda 2 jam dari WIB, tetap saja waktu berbuka dan Subuhnya berbeda. Alhasil, kali ini saya harus berpuasa kurang lebih 16 jam yang mana Subuh di Busan itu pukul 3.30 AM dan Maghrib pukul 7.30 PM. Karena kebetulan Ramadhan ini jatuh di musim panas yang siangnya lebih panjang dibanding malamnya. So, sensasi pertama berpuasa di Busan adalah menikmati puasa selama 16 jam.
  2. Buka Puasa Jam Segitu, Tarwihnya Jam Berapa?
    Ramadhan kurang lengkap rasanya tanpa Tarwih. Pasti dong Tarwih sudah ditunggu-tunggu. Karena waktu Maghriib sekitar 7.30 PM, kebayang dong Isya nya jam berapa? Yap, Isya nya 9.15 PM! Isya dulu habis itu tarwih, sekitar pukul 9.30 PM Tarwih nya dimulai. Selesai nya jam berapa? Biasanya sih sekitar 10.30 PM kemudian pulang ke rumah. Jadi, Tarwihnya bakalan selesai agak malem banget. Tapi, jangan khawatir! Pulang malam disinipun ga masalah. Suasana kota biasanya tetap ramai orang lalu lalang.
  3. Sahur Takut Bablas
    Nah, kondisinya masih nyambung dengan poin sebelumnya. Karena Tarwih selesainya agak maleman, otomatis waktu istirahat hingga waktu sahur jadi lebih pendek. Yang tadi belum dihitung dengan waktu perjalanan pulang dari mesjid. Biasanya naik subway atau bus. Sehingga, kadang bingung untuk sahurnya gimana ini. Makan tengah malem aja trus ga sahur atau sekalian begadang sampai waktu sahur trus tidur habis subuh? Subuh nya pukul 3.30 AM, jadi waya setting waktu sahurnya pukul 2.30 AM. Beberapa hari dijalani alhamdulillah masih bisa bangun. Semoga bisa dijalankan terus hingga akhir ramadhan 🙂
  4. Makan Apa Nih Buat Sahur?
    Namanya juga perantau kan ya, otomatis bangun sahur ga bisa langsung ke meja makan nyari makan kaya di rumah 😦 Tapi meskipun rantaunya di Surabaya, pengalaman tahun lalu, mencar sahur tetap gampang, tinggal pilih warung mana yang akan kita tuju buat sahur. Kali ini sahur di lingkungan yang orang-orangnya tidak berpuasa dan makanan halal tidak tersedia secara bebas. Sehingga, pilihannya cuma satu, MASAK! Dengan kemampuan pas-pasan, harus bisa mengolah makanan yang ada. Disini sayur banyak dijual di setiap mart-mart dan untuk daging halal, hanya bisa didapatkan di koperasi masjid Al-Fatah Dusil. Di postingan lain akan saya kenalkan koperasi ini. So, at least bisa tumis-tumis sayur atau bikin sup, terus goreng ayam. Siap deh makanan sahurnya 😀
  5. Buka di Masjid Yuk!
    Nyari masjid ga segampang di Indonesia sih, apalagi milih-milih masjid mana yang pas XD Di Busan hanya terdapat 1 masjid yang menjadi pusat ibadah umat Muslim di Busan dan sekitarnya. Masjid ini lumayan besar dan bangunannya permanen. Jadi, dimanapun kamu di Busan, ya pilihannya cuma di masjid Al-Fatah Dusil, Busan. Akses ke masjid dapat menggunakan Subway dan stop di Stasiun Dusil. Jalan sekitar 5 menit dan menara Al-Fatah sudah bisa terlihat.
  6. Wah Bentar Lagi Waktu Berbuka, Ngabuburit Dimana?
    Satu kebiasaan yang hilang ketika puasa disini, NGABUBURIT! Ya, mungkin karena saya yang kerjaannya sebagai mahasiswa di lab, jadi ga ada kesempatan ngabuburit. Ngabuburit dalam artian disini nongkrong sambil menikmati pemandangan kota dan alam sekitar. Tapi, menurut saya memang sulit untuk mencoba kebiasaan ini disini. Faktor utamanya sih karena lingkungan sekitar yang bisa menggugurkan pahala puasa kita ketika melihat hal-hal yang tidak pantas. Karena musim kali ini musim panas, kebanyakan wanita-wanita Korea akan menggunakan pakaian yang minim dan jelas-jelas mereka tidak mengenakan hijab. Jadi, masa kita ngabuburit sambil ngagugurin pahala puasa. Ga dong ya. Mending langsung ke masjid aja buat tadarrusan hingga waktu berbuka tiba.
  7. Kolak, Cendol, Degan, Gorengan! Lupakan!
    Puasa Ramadhan kali ini juga benar-benar puasa dari nikmatnya takjil Indonesia. Karena disini memang benar-benar apa yang ada dan yang bisa kita buat sendiri. Kalau di masjid tidak menyediakan makanan Indonesia, ya bikin sendiri aja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, yasudah liatin aja di Google Image XD Alternatif untuk takjil buka puasa bisa dengan membeli jus di kedai-kedai sekitar. Banyak kok yang jualan. Bisa juga menikmati Bingsu (semacam es puter kali ya wkwkwkwk). Tapi kan yang afdhal berbuka dengan kurma dan air mineral dan itu sudah cukup. Tinggal beli kurma aja di Asian Mart (next time saya post). Disana berbagai makanan Asia, termasuk Indonesia, tersedia lengkap. Serasa masuk Indomaret haha.

So, itu dia tantangan-tantangan yang saya rasakan ketika berpuasa di Busan, Korea. Dan sepertinya masih banyak tantangan lainnya, tapi karena ini masih hari kelima, jadi belum kerasa. Next time bakal diupdate terus kok postingannya. Stay tune!

Semoga Ramadhan kali ini berberkah untuk kita semua dan dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya, Amin.

6 tanggapan untuk “Tantangan Puasa di Busan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s